Basah-basahan di pagi hari? Ihh.. jadi ingat Mariska Lubis!! Pagi yang basah mendesah.. uhmmm dan pagi ini rasanya memang benar-benar basah bo!!Jangan berfikir saru atau porno karena saya tidak mau tulisan ini kena bredel RPM Konten dan Multimedia lho.. Apalagi sampai ada komentar yang berbau pornografi karena penulis tidak bertanggung jawab atas komentar-komentar yang hadir setelah tulisan ini, seperti yang ditulis Edi Santana Sembiring.
Tapi pagi ini memang basah, dan benar-benar basah..
Memasuki kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur saya jadi ingat dengan perkampungan yang hidup dari sampan ke sampan di Banjarmasin. Kampung yang unik karena hampir semua aktifitas dilakukan diatas sampan. Bahkan ada sebuah pasar yang menjajakan dagangannya dari atas perahu di Pasar Terapung Muara Kuin, tempat yang tetap terkenal hingga sekarang.
Sedari kemarin Kampung Melayu dan sekitarnya mendapatkan sebuah bingkisan banjir dari Bogor, daerah dimana SBY bermukim. Layaknya pragawati yang sedang melenggak-lenggok di atas catwalk bingkisan itu sangat cantik dan dapat dinikmati langsung oleh sekurangnya 510 orang yang saat ini sedang menonton di gedung bekas Bioskop Nusantara, Jalan Jatinegara Barat. Entah apa yang mereka tonton, wong di gedung bekas?! (disini)
Bingkisan ini juga sering disebut Banjir Kiriman. Secara bahasa mungkin “benar” karena berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) banjir dapat diartikan air yang banyak dan deras, atau peristiwa terbenamnya daratan. Jadi Banjir Kiriman bisa berarti kiriman air yang sangat banyak hingga membenamkan daratan??
Tapi kenapa selalu Bogor yang disebut-sebut sebagai penyebab banjir di Ibukota yach??
Bogor yang dikenal sebagai kota hujan merupakan daerah hulu untuk Kali Ciliwung, kali yang membelah Jakarta. Aliran air ini mengalir dari Bendungan Katulampa menuju Manggarai, menyusuri perkampungan padat dan akhirnya ke laut setelah melewati Kali Angke.
Disaat curah hujan tinggi maka pintu air di Bendungan Katulampa akan dibuka, dan air akan mengalir menuju Manggarai. Sebuah karya perpaduan saluran air alami dan buatan yang sangat indah, membuat saya bertanya kenapa masih ada banjir?
Musibah banjir kali ini seperti Lagu Lama Kaset Baru, karena terus saja terjadi. Tiap tahun daerah yang terkena banjir bukannya berkurang malah menambah wilayah baru. Penyebabnya juga beragam dari pendangkalan kali, sedikitnya ruang terbuka hijau, kepadatan penduduk bantaran kali, jumlah pepohonan, hingga gaya hidup menyampah.
Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta yang mengaku sebagai Ahlinya Banjir pada PilGub kemarin dalam kunjungan ke tekape di siaran berita TV One mengatakan, akan mengatasi masalah banjir ini dengan dua langkah yaitu mengeruk Kali Ciliwung dan membuat tembusan Kali Ciliwung ke Banjir Kanal Timur, hingga aliran air bisa diteruskan ke laut. Semoga saja cepat direalisasikan, karena masih ada penyebab lain yang belum diberikan solusinya yaitu yang tadi diatas, sedikitnya ruang terbuka hijau, kepadatan penduduk bantaran kali, jumlah pepohonan, dan gaya hidup menyampah.
Selama ke-empat penyebab tersebut masih belum ada solusinya maka Jakarta akan selalu dilanda banjir. Ini ramalan saya lho.. kalau meleset jangan marah, karena Mama Lauren saja bisa salah he…
Ada sebuah gagasan untuk memancing ide para petinggi kita mengatasi masalah ini. Mungkin rada gila, tapi rasanya patut dicoba. Seandainya saja SBY atau Fauzi Bowo mau bertukar peran dengan mereka yang hidup di bantaran kali, satu malam saja di musim penghujan ini (seperti reality show Jika Aku Menjadi) maka pagi ini mereka pasti akan mengatakan "Huh! Benar-benar pagi yang basah!!" Baca Selengkapnya..


40 hari berlalu sejak suara terompet itu saling bersahutan, mengalahkan desingan kembang api malam tahun baru. Kemeriahan pesta pergantian tahun dimana-mana, dan ada juga mereka yang melewati perayaan tahun dengan merenung dan berdoa di rumah, atau menonton sajian akhir tahun di televisi.
Aksi Bersih Sampah Angke merupakan kegiatan rutin triwulan yang diselenggarakan JGM untuk mengurangi kerusakan hutan mangrove SMMA. Kegiatan ini sudah berlangsung untuk kesekian kali, dan bertepatan dengan Hari Lahan Basah Sedunia komunitas JGM mengadakan Aksi Bersih Sampah Angke ke-17.
Melihat semangat para peserta patut kita acungi jempol karena walaupun bukan untuk kepentingan pribadi mereka rela berkotor-kotoran, bermain lumpur hingga berenang hanya untuk memunguti sampah, dan dari sampah yang dikumpulkan ternyata ada juga peserta yang menemukan sampah-sampah aneh lho.
Sanggar Daun bukanlah band terkenal bukan pula band ibu kota, tapi sebuah organisasi massa yang fokus kegiatannya pada masalah sosial dan anak jalanan, hebat kan?! Pada kegiatan ini mereka membawa timnya yang beranggotakan tiga orang dari bidang seni musik, dan menyayikan lagu-lagu bertemakan sosial dan alam.
Dari hasil sementara wilayah Jakarta ditemukan 20 spesies burung perairan dan 2 spesies burung hutan yaitu 
Ya. Anda dapat menggunakan air bekas untuk menghemat penggunaan air bersih. Air bekas tidak berbahaya jika anda menggunakannya dengan tepat. Air bekas tersebut bisa berasal dari sisa mencuci / membilas pakaian, mengepel lantai, mencuci piring, mencuci beras dan sayuran, ikan, daging, bahkan air bekas kompres ketika si kecil terkena demam.
Menggelinjang tidaklah porno. Menggelinjang merupakan rangkaian ekspresi yang dihasilkan dengan spontan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menggelinjang bisa diartikan mendompak-dompak, berjingkrak-jingkrak atau bergerak-gerak karena geli.